Lebaran kali ini, saya kira saya tidak akan mudik ke manapun, baik ke rumah orang tua maupun mertua. Pemerintah sudah memberi peringatan tentangan larangan mudik sejak sebelum puasa. Saya juga khawatir akan terjadinya lonjakan kasus. Tapi nyatanya, saya harus mudik untuk menemani ibu mertua.

Photo by Bisma Mahendra on Unsplash

Mudik kali ini cukup nano-nano rasanya. Serba mendadak dan banyak yang tidak terrencana tapi harus dilakukan dalam waktu dekat.

Warning Pemerintah dan Akal Bulus Masyarakat

Saya tahu, rasanya saya termasuk masyarakat yang suka mencari celah dari sebuah peraturan. Ketika tanggal 6, pemerintah mengatur larangan mudik bagi yang tidak berkepentingan, stasiun, bandara dan tempat pemberangatan moda kendaraan jadi sangat ramai jelang tanggal 6.


Sebelum menyeruput sup buah dan segala hidangan yang ada di depan mata, saya meniatkan diri untuk mengingatNya lebih erat. Konon, ini adalah waktu mustajab untuk terkabulnya segala hajat.

Photo by Fadkhera Official on Unsplash

Ketika waktu berbuka tiba, belakangan saya teringat pada kebiasaan rutin saat berbuka bersama dengan kedua orang tua saja. Meski godaan makanan manis pembuka buka puasa sudah tersaji, Abah mengajak kami semua untuk mengaminkan doa-doa yang beliau lafalkan.

Secara samar, saya mencoba mendengarkan doa yang beliau panjatkan dengan khusyuk dan berulang tersebut. Setelah itu saya coba ulik beberapa doa, oh ternyata itu adalah doa surat Yaasiin.

Memang kegiatan berdoa sebelum buka puasa itu menurut saya sendiri cukup berat. Seringkali khilaf. Bagaimana tidak, perut lapar sudah meminta untuk diisi. Ah, manusia ini, baru dihadapkan dengan makanan saja sudah lupa dengan Tuhan. …


Komik adalah bacaan bergambar yang disukai banyak orang, terutama anak-anak. Berbicara tentang komik, membuat saya teringat pada kenangan masa kecil dahulu.

Ngomong-ngomong saya tidak pernah membeli komik saat kecil. Tidak pernah beli dan tidak pernah juga dibelikan juga tepatnya. Orang tua cenderung menganggap baca komik, novel dan karya fiksi itu adalah bacaan yang kurang bagus.

Kalau bukan karena persaudaraan dan rasa penasaran, seperti saya punya koleksi komik di masa kecil saya. Pertemanan sesama perempuan masa kecil saya masih sibuk membicarakan Ana-Pedro atau main bongkar pasang dengan tokoh-tokoh dari filmnya Amigos dan telenovela lainnya.

Bersyukurnya saya punya saudara laki-laki. Memiliki kakak…


Grup support mendukung jiwa-jiwa yang pemalas untuk tetap konsisten dan komitmen melakukan suatu hal untuk mencapai tujuan.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Bergabung dalam sebuah grup whatsapp biasanya memiliki beberapa tujuan; memperbanyak relasi, meningkatkan skill komunikasi, dan mencapai tujuan bersama-sama.

Dulu sekali, saya cukup aneh dengan kegiatan ODOJ alias one day one juz. Buat apa bergabung untuk hal-hal ubudiyah seperti ini, toh kita bisa melakukannya sendiri. Satu juz doank kan sehari.

Kecongkakan saya pun terjawab oleh sebuah tamparan keras. Di luar sana ada banyak lho orang yang terengah-engah bahkan untuk mencapai satu juz dalam sehari.

Patutnya saya bersyukur dengan kemampuan saya. Tapi sekali-kali kita tidak boleh meremehkan semangat orang lain.

Saya pun mengintip whatsapp teman saya yang ikut ODOJ tersebut. Sebenarnya ini…


Menjadi Guru bukan sekadar mengajar pekerjaannya. Lebih dari, ini adalah pekerjaan yang menuntut proses belajar sepanjang waktu. Sebagai Guru pemula, tiap pulang ke rumah saya bersungut-sungut terus karena stres.

Photo by airfocus on Unsplash

Setelah lulus kuliah, ada beban yang harus saya lunasi. Beban untuk membayar kuliah saya selama 4 tahun, yaitu pengabdian.

Pengabdian untuk kembali ke sekolah dan pondok berarti profesinya tidak jauh dari guru. Apapun jurusannya, kebanyakan teman-teman saya pun akan mendapati profesi guru saat ke pondok. Guru apa yang paling cocok dari sarjana baru yang tidak punya latar belakang kuliah pendidikan? tentu saja, guru BK.

Beruntungnya, saya tidak mendapati pekerjaan sebagai guru BK. Tapi justru lebih menantang, guru segala pelajaran. Jika ada guru kosong, saya mengisi.

Kebetulan saya mengabdi di sekolah yang tidak bonafit. Sekolah baru yang tidak punya gedung, dan…


Dia muda, dia semangat. Meski banyak yang menyepelakannya dirinya karena kekurangannya, tapi semangat juangnya tak boleh diacuhkan. Saya merasa banyak belajar kepada anak ini.

Photo by Daniil Kuželev on Unsplash

Dari lantai tiga komplek Hamidea, saya dipertemukan dengan sesosok perempuan muda yang memberi pelajaran kepekaan kepada saya. Kesadaran akan kelemahan membuat dia mencoba mengejar ketertinggalan dan belajar menjadi manusia pada umumnya.

Awalnya dia sangat pemalu, pendiam, dan penyendiri. Hidup di asrama yang bertemu dengan berbagai watak dan karakter orang membuat mungkin membuat dia kewalahan. Karena hal itu, fokus dia hanya satu : Menghafal, menghafal, dan menghafal.

Mungkin memang terlalu repot menghadapi bermacam-macam jenis manusia.

Seusai sholat subuh, kami terbiasa disibukkan dengan rutinitas mendaras dan menyiapkan hafalan untuk disetorkan pada Guru. Ketika yang lain dengan santainya mengecek gawai terlebih dahulu, teman…


Suasana Ramadan kali ini tidak jauh berbeda dengan suasana tahun lalu. Masih dengan keadaan pandemi yang belum juga usai. Namun, pengalaman pada Ramadan kali ini memberikan banyak hal berarti buat saya.

Photo by Abdullah Arif on Unsplash

Perjalanan Ramadan kali ini cukup berkesan buat saya. Semenjak lebih fokus pada dunia blog dan mencoba meluaskan jaringan, Ramadan kali ini yang saya kira lebih sedikit untuk mengikuti webinar, malah jadinya seminggu ini ada 3–4 kali. Kalau minggu malah kadang 3 kelas sendiri.

Memang tidak dipungkiri, pandemi membuat kita semakin tidak bisa lepas dari yang namanya teknologi digital. Bahkan untuk urusan ngaji pun bisa diakses secara daring. Alhasil, Ramadan kali ini pun, saya mencoba memanfaatkan media digital sebaik mungkin.

Berikut hal-hal yang saya pelajari selama Ramadan:

Mengajar Ngaji Anak-anak

Mendapati kesempatan mengajak ngaji anak-anak memang sudah cukup biasa. Tapi, saya belum pernah mengajar…


Setelah salam terucap dan muka berlenggok ke kanan dan kiri, ingin sekali rasanya jiwa ini segera beranjak. Kita terburu-buru beranjak usai sholat, untuk apa?

Photo by Sangga Rima Roman Selia on Unsplash

Menjalani ibadah sholat sendiri, seringkali ingin sekali saya beranjak untuk segera terbangun dari singgasana saya sholat. Sekalipun saya mencoba menyabarkan diri sembari berkata pada diri sendiri :

Duduklah yang lama sesuai sholat, nikmati ketenangan sembari melafalkan apapun yang kau pinta pada TuhanMu. Bukankah usai sholat salah satu waktu yang maqbul untuk berdoa?

Jujur, berkali-kali saya mencoba, berkali-kali itu pula saya kalah oleh keinginan saya. Keinginan yang tidak memberi kebahagiaan. Aih, ini syetan kah yang menggodaku untuk segera beranjak dari sajadah ini? Malah mencari kambing hitam.

Sholat sendiri itu memang penuh dengan pilihan. Ingin khusyuk, ingin terburu-buru, ingin menangis, atau malah…


Dua hari yang lalu, seharusnya saya merayakan kebahagiaan menyambut nishfu sya’ban seusai magrib. Melantunkan surat yaasiin tiga kali dan doa-doa dalam untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta. Sayangnya, hari itu berjalan biasa saja. Rutinitas tahunan tersebut terlewat begitu saja. Hidup di kota membuat saya kerap kali lupa untuk merayakan ritual-ritual tersebut.

Photo by Katerina Kerdi on Unsplash

Budaya untuk menyemarakkan malam nishfu sya’ban memang selalu pro dan kontra. Namun, lain daripada itu, saya mencoba memahami sejarahnya terlebih dahulu. Dulu salah satu kyai saya mencoba menjelaskannya hal tersebut.

Awal mula penyambutan nishfu sya’ban dengan meriah digagas oleh seorang ulama yang berasal dari kalangan tabi’in tabiin, beliau adalah Khalid…


Pintu yang terbuka bisa menjadi pembuka rejeki untuk kita maupun orang lain.

Photo by Alexander Tsang on Unsplash

Pagi tadi, Nahla dan saya menyempatkan berjemur. Pagi ini cuaca sangat cerah. Mentari menyapa kami lebih awal, sinarnya pun tak sungkan untuk menghangatkan tubuh yang merapuh.

Sembari berjemur, aku mengajak Nahla mengobrol, sesekali aku sedikit memaksanya untuk lebih lama duduk menikmati kehangatan mentari pagi ini. Dia sedang tidak enak badan. Batuk dan flu menghinggapinya belakangan ini. Kehangatan pagi ini bisa membantunya, bukan? Ya, aku percaya.

Kami berjemur dengan membuka pintu depan cukup lebar, namun kami masih di dalam rumah. Kebetulan cerahnya pagi ini sampai masuk ke dalam rumah. Nyaman dan hangat sekali berjemur kali ini.

Kebetulan depan rumah kontrakan ini…

Morning Pages

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store