3 Semoga yang Ingin Terkabulkan

Sebelum menyeruput sup buah dan segala hidangan yang ada di depan mata, saya meniatkan diri untuk mengingatNya lebih erat. Konon, ini adalah waktu mustajab untuk terkabulnya segala hajat.

Photo by Fadkhera Official on Unsplash

Ketika waktu berbuka tiba, belakangan saya teringat pada kebiasaan rutin saat berbuka bersama dengan kedua orang tua saja. Meski godaan makanan manis pembuka buka puasa sudah tersaji, Abah mengajak kami semua untuk mengaminkan doa-doa yang beliau lafalkan.

Secara samar, saya mencoba mendengarkan doa yang beliau panjatkan dengan khusyuk dan berulang tersebut. Setelah itu saya coba ulik beberapa doa, oh ternyata itu adalah doa surat Yaasiin.

Memang kegiatan berdoa sebelum buka puasa itu menurut saya sendiri cukup berat. Seringkali khilaf. Bagaimana tidak, perut lapar sudah meminta untuk diisi. Ah, manusia ini, baru dihadapkan dengan makanan saja sudah lupa dengan Tuhan. Doa buka hanya sekadar lewat saja itu di mulut, tapi entah sampai pada hati atau tidak.

Ketika tersadar dan belajar hadir pada kesempatan yang maqbul ini, saya mencoba menengadahkan diri dan merapal satu per satu hajat yang ingin tercapai. Meski rasanya ingin banyak doa dan harapan yang terpanjatkan, namun akhirnya seringkali berujung dengan Rabbanaa atinaa.. Doa kebaikan dunia dan akhirat.

Lalu apa doa-doa yang banyak saya panjatkan saat berbuka tersebut?

Saya rasa ini adalah doa yang banyak dipanjatkan oleh banyak orang. Kehidupan kita yang sudah terkungkung oleh virus membuat banyak perubahan terjadi. Dan kita pun merindukan suasana normal kembali.

Efek dari kehadiran virus ini membuat beberapa rencana dari hidup berubah haluan. Tak sedikit juga yang banting setir untuk mencari rencana lain.

Perubahan kebiasaan yang muncul ini meski di satu sisi membawa keberkahan dan pembiasaan pada seluruh lapisan masyarakat. Beberapa kegiatan seperti sekolah daring, seminar daring, dan bahkan beberapa pekerjaan pun bisa dikerjakan di rumah. Ini ternyata memberi kesempatan bagus juga untuk beberapa pihak yang memanfaatkan keadaan ini untuk berinovasi.

Namun, sebagai makhluk sosial, kita rindu sekali untuk bersosialisasi dengan leluasa. Tanpa masker, tanpa jaga jarak, dan tanpa kekhawatiran akan adanya bahaya di antara kita.

Alhamdulillah, sekarang ini sudah ada vaksin juga untuk menangkalnya. Eh bukan menangkal, tapi untuk lebih mengebalkan imun kita katanya. Semoga saya juga segera mendapatkan vaksin ini.

Kadang saya merasa bahwa keadaan kami saat tidak jelas. Suami dikira orang sedang nganggur, karena kuliah pun yang harusnya di Belanda tapi malah tinggalnya di Indonesia. Tinggal di Indonesia pun harus pindah-pindah terus karena urusan risetnya, yang membuat saya kadang lelah sendiri untuk terus berpindah. Sementara saya juga ingin mengembangkan kemampuan diri atau mencoba menemukan pekerjaan yang saya minati.

Tahun ini alhamdulillah sudah memasuki tahun ketiga. Yang artinya tahun depan adalah tahun terakhir suami kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Makanya besar harapan bahwa suami akan segera menyelesaikan penulisan disertasinya dengan baik. Agar terfasilitasi oleh beasiswa. Sehingga selanjutnya kami bisa lebih fokus pada hal lain.

Riset saat pandemi memang melelahkan pastinya. Suami mesti riset ke lapangan dan bertemu dengan orang baru. Selain itu juga harus menulis dan konsultasi secara daring dengan profesornya. Meski banyaknya waktu untuk tinggal di rumah, namun ternyata hal itu juga membuat jenuh. Dia bilang menulis akan lebih fokus saat dikerjakan di perpustakaan. Akses lebih mudah untuk mendapatkan referensi dan suasananya lebih mendukung.

Mohon doanya ya teman-teman, semoga kuliah suami saya selesai tepat waktu, dimudahkan segala urusannya, dan dilembutkan hati para profesornya untuk kelancaran s3 ini.

Photo by Element5 Digital on Unsplash

Bulan Mei ini anak saya akan bertambah usianya jadi lima tahun. Yang mana orang-orang sudah bertanya-tanya tentang sekolahnya.

Meski nyatanya pandemi membuat orang-orang khawatir untuk menyekolahkan anaknya, namun anggapan bahwa mendapatkan pendidikan bagi anak itu ya sekolah formal sudah jadi mindset banyak orang.

Saya sendiri masih mengupayakan untuk memberikan pendidikan terbaik dari rumah. Dengan bekal beberapa materi homeschooling yang sudah saya ikuti, saya mencoba menerapkannya sedikit-sedikit pada anak saya.

Sambil mencari teman-teman dan lingkungan yang kondusif, karena umurnya baru 5 tahun juga, jadi saya masih membebaskan untuk bermain sepuasnya. Beberapa metode dari Charlotte Mason yang rencananya jadi acuan saya dalam membersamai anak belajar juga menanamkan pengajaran yang lebih menganggap anak sebagai orang. Yang berarti anak memiliki kuasa untuk menentukan kemauannya sendiri.

Tepat bulan kemarin, karena kami sudah membeli lahan tanah untuk dibuat rumah, itu berarti kami juga memiliki kewajiban untuk membayar cicilan setiap bulannya.

Ini adalah pengalaman untuk saya suami memiliki tagihan. Masya Allah, rasanya agak berat ya ternyata. Semoga Allah mudahkan dan mampukan kami untuk dapat melunasi tagihan tersebut tepat waktu. Syukur-syukur lebih awal.

Beneran memiliki hutang dan tagihan itu nggak enak. Kita serasa dikejar-kejar dan ada beban sendiri. Makanya, suka heran sama orang yang berhutang tapi kok santai-santai aja.

Untuk memenuhi target pelunasan, kami mencoba investasi di bidang kesehatan yang kebetulan ada teman yang menawarkan bisnis tersebut. Selain itu, saya juga mengupayakan untuk menambah penghasilan lain untuk ikut membantu meringankan beban tersebut.

Semoga Allah mampukan kami untuk dapat melunasinya tepat waktu ya. Dengan diberikan umur yang panjang dalam kebaikan, kesehatan, kemudahan rejeki, kekuatan untuk menghadapinya, kelancaran dalam menjalani hal tersebut serta dijauhkan dari segala kemudharatan dan marabahaya.. Aamiin, aamiin.

Semoga Allah kabulkan doa-doa kita. Aamiin.

Rabbana taqabbal minna innaka antassamii’ul ‘aliim.

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.