Batasi Kasihan untuk Hutang

Selama tinggal di rumah ibuku, beliau menerima beberapa tamu yang punya tujuan untuk meminjam uang. Seringkali ku bilang ‘Ibu, tolong batasi rasa kasihanmu. Kasihanmu tak ada batasnya, tapi permintaan mereka juga tak harus selalu kita turuti’.

Photo by Austin Kehmeier on Unsplash

Aku cukup gatal ketika mendengar cerita ibuku yang bilang bahwa mereka meminjam uang untuk membayar hutang ke KBM, sebuah lembaga pinjam meminjam.

Meminjam uang untuk membayar tentu saja bukan solusi yang tepat. Di satu sisi, orang meminjam uang ke lembaga sering dianggap perlu diutamakan daripada meminjam kepada saudara maupun tetangga.

Gemas nggak sih, kalau gitu? Udahlah jadi pelarian, nggak diutamakan juga bayarnya. Eh, malah yang ada dientengkan. Dianggap tidak penting. ZBL.

Kalau aku di posisi ibuku sih tentu saja aku akan menolaknya. Tapi ini jelas bukan kasusmu.

Ingin sekali rasanya aku ikut campur. Bilang ke ibuku untuk menolak memberikan pinjaman. Ini urusan uang, urusan persona. Tentu saja tidak baik untuk ikut campur.

Jadi yang kuupayakan adalah mengajak Ibuku untuk sedikit lebih pelit dan belajar tega.

Ibuku bilang, orang butuh itu harus dibantu untuk meringankan bebannya.

Duh, Gusti.

Nasihat Financial Planner soal hutang yang tak berlaku dan kita yang masih bermental minta-minta

Padahal kalau aku ingat-ingat ajaran para financial planner, kita itu harus punya batasan kasihan dan mengevaluasi makna membantu. Membantu tidak selalu dalam bentuk uang, tapi banyak orang yang lebih membutuhkan bantuan berupa uang.

Atau jangan-jangan kita cari jalan keluar instan saja, dan tidak ingin berupaya lebih.

Jadi inget sama ceritanya Raditya Dika, dia nggak meminjamkan uang kepada orang yang meminjam, tapi dia memberikan pekerjaan. Nanti setelah selesai melakukannya baru mendapatkan uang hasil dari dia bekerja.

Aku suka cara begini. Tapi sayangnya kita nggak melulu bisa memberikan pekerjaan kepada orang yang membutuhkan uang. Atau, ketika kita tawarkan pekerjaan pun, mereka tidak sabar. Mereka butuh uang saat itu. Sementara pekerjaan yang diberikan memberi jeda yang membuat uang tidak segera ia terima.

Lagi-lagi, aku teringat pesan dan cerita keuangan di atas, aku meyakini caraku selama ini meski terkesan pelit tapi aku senang karena bisa mengendalikan uangku untuk orang lain.

Namun aku teringat bagaimana Ibuku bilang bahwa orang butuh uang itu ya kalau bisa dibantu. Apa sih definisi membantu itu?

Menurut KBBI, definisinya sama dengan kata tolong, diperuntukkan untuk menolong orang miskin dan melarat.

Mungkin melihat sisi baik yang dilakukan oleh Ibuku banyak juga yang melakukan. Ini bukan tentang pertimbangan batasan uang tapi soal tolong menolong, soal kemanusiaan.

Kadang orang banyak mengharapkan dari membantu ini kelak di kemudian anak cucu pun akan ada yang menolong ketika membutuhkan.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan menolong. Tapi urusan menolong orang berhutang, perlu ada pertimbangan lain. Pertama, jika kita bisa membantu, bantulah dengan menawarkan jasa. Kedua, catat hutang di depan orang yang berhutang. Ketiga, siap-siap merelakan ketika kita akan memberikan piutang.

Buat yang berhutang juga, please banget, komitmen untuk membayar hutang meski kepada perseorangan, jangan sepelekan. Turunkan gaya hidup, dan catata juga hutang yang kamu miliki.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang berkecukupan dan dijauhkan dari hutang-hutang.

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.