Belajar Kepada Yang Muda

Dia muda, dia semangat. Meski banyak yang menyepelakannya dirinya karena kekurangannya, tapi semangat juangnya tak boleh diacuhkan. Saya merasa banyak belajar kepada anak ini.

Photo by Daniil Kuželev on Unsplash

Dari lantai tiga komplek Hamidea, saya dipertemukan dengan sesosok perempuan muda yang memberi pelajaran kepekaan kepada saya. Kesadaran akan kelemahan membuat dia mencoba mengejar ketertinggalan dan belajar menjadi manusia pada umumnya.

Awalnya dia sangat pemalu, pendiam, dan penyendiri. Hidup di asrama yang bertemu dengan berbagai watak dan karakter orang membuat mungkin membuat dia kewalahan. Karena hal itu, fokus dia hanya satu : Menghafal, menghafal, dan menghafal.

Mungkin memang terlalu repot menghadapi bermacam-macam jenis manusia.

Seusai sholat subuh, kami terbiasa disibukkan dengan rutinitas mendaras dan menyiapkan hafalan untuk disetorkan pada Guru. Ketika yang lain dengan santainya mengecek gawai terlebih dahulu, teman sekamar saya ini berbeda. Dia langsung mencari tempat nyaman untuk menyiapkan hafalan.

Kami baru bergegas untuk memulai baris awal, dia sudah dengan semangatnya mengulang-ulang ayat-ayat Tuhan. Meski terdengar agak berisik, apalagi dengan suaranya yang cukup cempreng, namun hadirnya anak ini membuat pagi kami di lantai tiga lebih ramai dari biasanya.

Saat awal dia datang, dengan latar belakang cerita yang ia bawa membuat kami prihatin sekaligus respek. Anak itu adalah anak termuda diantara kami semua. Dia baru lulus Aliyah. Sementara kami semua sudah kuliah.

Singkat cerita, anak ini bercerita bahwa ia pernah gila. Pernah masuk rumah sakit jiwa. Semua nilai selama sekolah kurang begitu bagus. Tapi, dengan yakinnya ia bilang bahwa ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Salah satunya dengan ikut mondok bersama kami sekarang.

Saya perhatikan lamat-lamat, anak ini sangat berbeda dengan yang lainnya. sebagai yang paling senior di asrama, saya mempunyai peran untuk mencoba menghangatkan suasana dan mengakrabkan anak baru dengan anak lama. Menghadapi anak ini, saya malah justru banyak belajar darinya.

Ketika seseorang menyadari kelemahannya, dia akan mengakui dan mencoba mengejar ketertinggalan tersebut. Akan lain halnya ketika seseorang tidak menyadari kelemahannya, merasa dirinya mampu, namun acapkali meremehkan banyak hal.

Anak ini sadar sekali bahwa dia tidak cepat dalam menghafal atau mempelajari sesuatu. Dengan kesadaran tersebut, yang saya lihat justru kegigihannya. Bangun lebih pagi, menghafal lebih awal, setoran paling awal, dan lebih rajin muroja’ah.

Berbeda dengan teman-teman saya lainnya dan juga saya pastinya. Dengan kesoksibukan kami dengan urusan kuliah, kami seringkali mendadak sregep ketika waktu setoran telah datang. Dan tak jarang baru rajin takriran setelah mendapat teguran dari Sang Guru.

Hingga sebulan berlalu, saya dibuat takjub dengan progresnya. Dia sudah menguasai dirinya, mencoba lebih akrab dengan teman sekamarnya, dan berani untuk memulai komunikasi dengan orang baru.

Hari-harinya lebih sering sendiri. Lagi-lagi, karena kami semua sok sibuk dengan urusan kampus, (maafkan kami) sementara anak ini memilih untuk tidak kuliah dulu. Hanya mondok saja.

Saya jadi teringat kata-kata awal dia saat ingin mengajak ngobrol : Hai Mbak Ghina. Mbak Ghina lagi apa?

Jika saya menjawab dengan singkat, dia akan menyudahi obrolan dan mundur perlahan. Jika saya menjawab dengan cukup panjang dan memberikan respon balik, dia akan mulai menjawab dan bercerita. Meski awalnya malu dan sungkan, bisa jadi dia sadar, dia butuh bersosialisasi juga. Ah, dia merasakan kesepian juga.

Selama membersamainya, kadang kami merasa terlalu banyak mengajarkannya hal-hal buruk. Bayangkan saja, anak-anak kuliahan kadang obrolannya tidak jauh dari pembahasan tentang materi kuliah, dosen yang menyebalkan, tugas yang rumit, dan gebetan. Lebih banyak mengeluarkan energi negatif daripada positif, bukan?

Kadang dia sedikit bengong mendengar obrolan kami. Lalu kemudian dia mencoba merespon, memasuki obrolan anak-anak kuliah. Mencoba mengikuti obrolan pada umumnya. Obrolan yang dianggap nyambung seperti manusia pada umumnya.

Di situ saya kadang merasa salah. Saya ingatkan teman-teman : ‘Sst, ada anak di bawah umur. Ganti topik.’

Tentu saja omelan saya itu tidak bisa selalu hadir dalam tiap perbincangan mereka. Jadi anak ini sudah mulai terbiasa dengan cerita tersebut.

Dianggap menjadi manusia umum itu melelahkan bukan. Mencoba nimbrung pada obrolan kosong, mencoba merespon agar dianggap peduli, mencoba paham agar dianggap menjadi bagian dari lingkaran.

Maaf ya, mungkin kami banyak mengajarkan hal tidak baik selama kamu bersama kami. Semoga kamu tetap menjadi manusia menyadari dan terus mengejar ketertinggalan.

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com