Burn Out Saat Menjadi Guru

Menjadi Guru bukan sekadar mengajar pekerjaannya. Lebih dari, ini adalah pekerjaan yang menuntut proses belajar sepanjang waktu. Sebagai Guru pemula, tiap pulang ke rumah saya bersungut-sungut terus karena stres.

Photo by airfocus on Unsplash

Setelah lulus kuliah, ada beban yang harus saya lunasi. Beban untuk membayar kuliah saya selama 4 tahun, yaitu pengabdian.

Pengabdian untuk kembali ke sekolah dan pondok berarti profesinya tidak jauh dari guru. Apapun jurusannya, kebanyakan teman-teman saya pun akan mendapati profesi guru saat ke pondok. Guru apa yang paling cocok dari sarjana baru yang tidak punya latar belakang kuliah pendidikan? tentu saja, guru BK.

Beruntungnya, saya tidak mendapati pekerjaan sebagai guru BK. Tapi justru lebih menantang, guru segala pelajaran. Jika ada guru kosong, saya mengisi.

Kebetulan saya mengabdi di sekolah yang tidak bonafit. Sekolah baru yang tidak punya gedung, dan masih acak menerima guru dan murid. Ada guru dan murid aja syukur. Murid pindahan pun yang notabene pindah karena kasus pun diterima dengan sangat terbuka.

Saya pun mendapat amanah untuk memegang tiga mata pelajaran. Sosiologi, PPKn, dan Tahfidz.

PPKn terpilih karena jurusan kuliah saya agak mepet materinya dengan pelajaran ini. Tahfidz terpilih karena saya berasal dari pondok Qur’an, sementara Sosiologi terpilih karena suami saya anak sosiologi. Jadi katanya nanti kalau ada materi yang tidak saya kuasai, saya bisa bertanya kepada suami.

Sangat random.

Hari demi hari, saya mencoba untuk enjoy menyandang pekerjaan sebagai seorang Guru. Ketika diri sudah down, saya langsung bilang pada diri sendiri ‘ingat, kamu sedang mengabdi’.

Tapi yang sungguh berat dari mengabdi adalah sasaran pengabdiannya. Anak didik yang saya ajar ini adalah anak Aliyah. Pemikirannya sudah lebih dewasa. Tidak bisa dilakukan pendekatan seperti anak kecil.

Jadi kalau membelot dan saya keras kepala, bisa bubar kelasnya. Tidak ada guru, langsung kabur ke pondok masing-masing. Guru marah, anak protes ke kyainya dan kita yang kena deh. Sekolah yang berada di bawah yayasan pun kadang merepotkan. Sinkronisasi ide dan pemikiran pun susah sekali untuk klop.

Sepertinya saya merasakan burn out dalam menjalani profesi sebagai seorang guru. Setiap hari sepulang mengajar dan bertemu dengan suami, cerita saya tidak ada manis-manisnya. Hampir selalu, cerita buruk yang ada. Cerita penuh kekesalan, kesal pada anak-anak, kesal pada materi yang kebingungan dikuasai, dan kesal pada diri sendiri yang tidak bisa mengendalikan hal tersebut.

Sampai akhirnya mungkin karena suami sudah bosan mendengar ocehan saya, lalu dia bilang ‘ Bekerja itu ya seperti itu. Kalau tidak mau mengadapi lika-liku tersebut, mending resign aja’.

Merasa tertampar sih dibilangin begitu.

Akhirnya saya mencoba bertanya pada diri sendiri, lebih meyakinkan diri lebih tepatnya. Pertama, ini pengabdian, niatkan diri bukan pada honor tapi pada pengabdian yang bisa kita persembahkan pada tempat kita mengabdi. Kedua, ini menjadi guru, niatkan diri untuk menjadi guru pembelajar dan guru pendidik. Bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Ketiga, pengabdian ini tidak akan lama, jadi nikmatilah.

Ketika teman-teman saya begitu mengagumi orang-orang yang ikut Indonesia Mengajar untuk mengajar di pelosok-pelosok daerah tertinggal, saya jadi sadar, kita terlalu jauh melihat. Padahal ada hal-hal seperti itu tidak jauh dari sekitar kita.

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com