Lebaran kali ini, saya kira saya tidak akan mudik ke manapun, baik ke rumah orang tua maupun mertua. Pemerintah sudah memberi peringatan tentangan larangan mudik sejak sebelum puasa. Saya juga khawatir akan terjadinya lonjakan kasus. Tapi nyatanya, saya harus mudik untuk menemani ibu mertua.

Photo by Bisma Mahendra on Unsplash

Mudik kali ini cukup nano-nano rasanya. Serba mendadak dan banyak yang tidak terrencana tapi harus dilakukan dalam waktu dekat.

Saya tahu, rasanya saya termasuk masyarakat yang suka mencari celah dari sebuah peraturan. Ketika tanggal 6, pemerintah mengatur larangan mudik bagi yang tidak berkepentingan, stasiun, bandara dan tempat pemberangatan moda kendaraan jadi sangat ramai jelang tanggal 6.

Seperti yang kemarin saya rasakan. Kami yang memiliki jadwal untuk pulang tanggal 5 Mei. Mepet sekali ya, sehari sebelum larangan berlaku. Jadi pada tanggal 5 pula kami pun melakukan test Genose untuk syarat bebas covid dan bisa naik kendaraan umum.

Kami memutuskan naik kereta. Hanya kendaraan ini yang bisa kami andalkan tiap mudik. Belum punya mobil dan menyewa mobil pun pasti sangat mahal. Terlebih suami dan saya pun belum bisa menyetir mobil.

Saya bertanya-tanya donk, kenapa mepet sekali beli tiketnya kok tanggal 5 sih? Dia jawab, hanya hari itu ada tiket kosongnya. Hari-hari sebelumnya sudah penuh, full booked.

Baiklah. Apa boleh buat.

Siang hari yang terik, kami pun melakukan test Genose. Ini kali kedua saya melakukan test covid. Dua-duanya untuk perjalanan. Dulu saat masih rapid test, sebelumnya disuntik, was-wasnya bukan main. Takut positif dan tiket pesawat hangus.

Sungguh, test seperti ini sebenarnya sangat mendebarkan. Seperti antara hidup dan mati. Lanjut dan tidak ditentukan oleh hasil test.

Namun test kali ini, saya entah kenapa agak tenang.

Kami datang di tempat test sekitar pukul 10.00. Sudah ada banyak orang yang duduk menunggu hasil test. Ketika hasil keluar, terdengar si petugas memanggil para pengunjung secara berurutan. Langsung banyak.

Saya pun diminta suami menunggu di ruang pendaftar sementara dia mengisi data untuk pengambilan plastik Genose. Tersaji sebuah layar lebar yang menunjukkan tata cara melakukan test Genose.

Beberapa syarat melakukan test Genose adalah : Peserta harus dalam kondisi sehat, sudah mengantongi tiket kereta api, dan tidak boleh makan, minum, merokok, dan memasukkan makanan apapun 30 menit sebelum test.

Kebetulan sekali hari ini adalah hari pertama saya menstruasi. Dan saya agak shock dengan syarat ketiga. Saya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali saya makan. Ah, lupa!

Setelah suami selesai mengisi data, dia memberikan kantong nafas kepada saya. Oh iya, karena anak saya masih berusia dibawah 5 tahun jadi tidak perlu test ya. Kami pun menuju tempat test. Simpel sekali caranya, cukup buka katup kantong ke kiri, hela nafas tiga kali, lalu tutup kembali katup dan serahkan kantong tersebut ke Petugas.

Karena suami yang duluan test, ternyata dia kelabakan dengan tata cara tersebut. Dia sih langsung nyelonong aja ke ruang daftar, tanpa melihat panduannya di layar lebar. Heu.

Hasil pun datang dalam waktu kurang lebih 3 menit. Saat menunggu dalam kisaran tiga menit itu saya baru ingat donk, sebelum berangkat ternyata saya sudah makan sisa buah pir setengah potong. Wkwk.. Alhamdulillah hasil testnya negatif.

Meski ini sedang bulan puasa, karena saya tidak sedang puasa, rasanya selama di kereta itu ingin sekali saya misuh-misuh. Suasananya ruamaaaai sekali. Tidak ada itu yang namanya jaga jarak. Ah, mungkin ini karena kami naik kereta ekonomi, ya.

Kami yang mendapati kursi terpencar-pencar untungnya bisa nego dengan penumpang yang lain sehingga akhirnya kami dalam dua kursi yang berhadap-hadapan. Untungnya, orang-orang yang satu bangku dengan kami itu pendiam. Ada satu keluarga dengan satu anak dan satu pemuda.

Yang bikin emosi apa donk?

Tetangga seberang kami. Boleh nggak ya ini mau emosi dulu. Tapi emang emosi banget. Mereka itu lepas masker, makan di sana sambil ngomong dan anaknya itu begajulan banget sambil nggak maskeran.

Saya coba tahan nafas dan tahan emosi. Oke, sabar, Na.

Tapi sebenarnya disitu saya kesal sendiri. Kenapa diri ini kok berat sih mau ngomong ke orang itu kalau mau nyuruh pakai maskernya. Ada yang suka merasakan gitu nggak sih, teman-teman?

Abis gitu ya, itu anaknya yang umurnya lebih kecil daripada Nahla, pilihan kata yang diucapkannya itu kasar banget. Segala jenis kata kotor sering sekali keluar dari mulutnya. Respon orang tua dan saudaranya lebih menjengkalkan lagi, mereka menertawarkan tingkah si anak. Grrr.

Saya lebih banyak terjaga sepanjang jalan, tapi ternyata anak saya tidak tidur sama sekali sepanjang jalan. Seperti dia banyak sekali memperhatikan tingkah anak itu. Saya bisikkan berkali-kali pada anak saya, ‘Tolong yang tidak baik, tidak usah ditiru ya, Nak’.

Petugas pun datang untuk mengecek suhu tubuh kami. Oh God, kenapa atuh mengecek tubuh masih meletakkan thermo gun di tangan?? Pandemi udah setahun lebih, kenapa belum hafal juga kalau thermo gun itu ngeceknya di jidat? Heran. Masih banyak menemukan hal kayak gini di tempat-tempat umum.

Naik kereta kali ini kami tidak mendapatkan face shield lagi, tapi masker medis dan tisu basah.

Alhamdulillah, perjalanan berjalan dengan lancar. Kami pun tiba di Stasiun Kawunganten sekitar pukul satu dini hari. Dijemput oleh kakak ipar dan saudaranya. Tanpa banyak bersua, sesampainya di rumah saya langsung meninabobokan Nahla dan saya pun tertidur pulas.

Alhamdulillah. Semoga kita sehat semua. Aamiin.

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com