Momen Anak Di Hari Anak

Sedari pagi di hari Jum’at kemarin, saya bermain penuh dengan anak. Penuh tanpa gangguan gawai. Tak sadar, jika hari itu ternyata Hari Anak Nasional. Sebuah acara dari majalah kesayangan anak mengingatkan saya dengan momen hari itu.

Photo by Jerry Wang on Unsplash

Segala rangkaian acara untuk menyambut Hari Anak tidak berhenti di hari itu saja. Kemarinnya, masih ada banyak acara untuk menyemarakkan peringatan Hari Anak ini.

saya yang seharian bersama anak jadi merasa bersyukur. Setidaknya, meski tidak ada selebrasi dan tidak ingat bahwa hari itu adalah Hari Anak, namun saya telah mengupayakan untuk hadir penuh. Ini adalah sebuah prestasi bagi saya, di antara distraksi, terutama gawai.

Hari itu kami mulai membiasakan diri bernarasi seusai saya membacakan buku. Syukurnya, meski awalnya dia selalu menolak, belakangan dia tiba-tiba mulai menerima. Terutama setelah cerita Aeosop Fabel dan buku karya Djokolelono saya tawarkan.

Buku Djokolelono ini sungguh membuat anak saya jatuh cinta. Saya pun demikian. Ini adalah karya klasik. Seperti hart karun kami merasakannya, membuncah bahagia tak terusik.

Di antara puluhan buku anak yang sudah saya bacakan, buku lokal karya Djokolelono ini entah kenapa sangat berbekas di hati kami. Kebetulan saya mendapatkan rekomendasi buku tersebut dari beberapa referensi buku yang jadi acuan narasi Charlotte Mason. Djoko banyak menerjemahkan buku yang hidup, living book. Tentu saja saya mendapatkan buku tersebut tanpa berburu ke lapangan, semua cukup dari genggaman.

Senangnya, buku menjadi acara utama di antara beberapa acara untuk menyambut peringatan Hari Anak Nasional ini.

Saya mengikuti beberapa rangkaian acara yang ada. Baik di YouTube, Instagram maupun Zoom. Tidak sendirian, saya langsung ajak anak untuk mengikuti acara tersebut. Sengaja mengeraskan volume juga agar suami ikut serta mendengar di sela-sela kerja.

Semalam, ketika membuka Instagram, saya kebetulan mendapati info tentang acara membaca buku lokal klasik. Saya langsung tertarik karena pembaca bukunya adalah Bu Roosi, Bu Reda dan Bu Titis dan acara tersebut dibawakan oleh Kak Aio. Yang lebih menariknya lagi, mereka membacakan buku klasik dan menceritakan kenangan mereka terkait buku tersebut.

Nama-nama pembuat cerita dan ilustrasi buku klasik yang dibawakan oleh mereka cukup asing buat saya. Tapi ketika mereka mengenang kembali momen buku tersebut dan menjelaskan isi buku, detail ilustrasi, model penulisan, saya jadi merasa cukup akrab dan senang. Dulu untungnya saya masih mendapati buku yang bertuliskan ‘batjalah tjerita’ dan semacamnya.

Buku-buku klasik yang berkualitas jelas memberikan sentuhan sendiri. Kami yang mendengarpun jadi merasa ikut berseri-seri. Ceritanya pun beberapa masih relate dengan kondisi hari ini. Ah, andai dulu saya sempat mencicipi buku klasik yang berarti ini.

Dan, tentu saja setelah mendengarkan cerita yang dibacakan oleh mereka, saya langsung mencatat nama-nama pengarangnya. Langsung saya cari di ipusnas dan gramedia digital, dua e-book andalan saya.

Ya, 70 persen bacaan anak saya berasal dari e-book. E-book sangat membantu memenuhi kebutuhan bacaan kami sekeluarga. Buku-buku anak lebih banyak koleksinya daripada buku saya sendiri.

Ah iya, saya jadi ingat, tepat di Hari Anak juga, saya diminta untuk menjadi narasumber obrolan tentang buku. Karena saya sering mendengungkan tentang e-book, saya pun diminta untuk membicarakan tentang keseruan baca buku e-book bareng anak. Sayang, agak sepi diskusi. Ah iya, saya lupa, sebagian besar anggotanya adalah penjual buku. Duh!

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.