Potret Pertemanan Masa Kuliah

Sebulan yang lalu saat bersih-bersih folder di laptop, ada sebuah potret dari file folder yang menarik. Penuh haru biru kebahagiaan seorang manten anyar yang membawa orang yang disebut suami untuk dikenalkan kepada teman seganknya. Wkwk

Saat melihat ini kemarin, tiba-tiba saya mencoba mengingat kembali pertemanan saya semasa kuliah dulu. Saya ternyata mahasiswa yang cukup kuper dan tidak luwes berteman.

Sebagai anak kampung, masuk ke kampus negeri yang tersohor itu rasanya agak surprise tapi juga bikin minder. Mana jurusan saya itu kata orang-orang termasuknya jurusan yang bonafit. Hukum. Tahu sendirilah, anak-anak hukum itu kebanyakan cukup borjuis, berasal dari sekolah ternama, dan penampilannya banyak yang.. em… menarik.

Ingat sekali, awal-awal masuk kampus. Ada yang namanya mentoring AAI. Iya, saya tertarik dalam mentoring keislaman di kampus.

Mentoring ini di mata saya saat itu tentu saja bagus. Sebagai anak baru, saya masih menganggap hal-hal yang terlihat islami itu bagus. Meski ternyata, bagus tak berarti akan nyaman juga.

Awal-awal terasa cukup nyaman ikut kegiatan tersebut. Tapi di sisi lain, saya merasa terlalu eksklusif. Sementara saya yang anaknya seperti macan baru keluar kandang, sengaja ingin keluar dari eksklusifitas.

Saya sudah cukup kenyang mendapati hal itu sebelumnya. Saya ingin lingkungan yang lebih beragam.

Sayangnya, karena saya kurang luwes jadi kurang luas mencari jejaring pertemanan. Yang ujung-ujungnya jadi akrab ya teman sekelas. Lalu temannya punya teman yang saya pun jadi akrab dengan teman tersebut. Foto di atas mewakili cerita tersebut. Pertemanan di lingkup organisasi entah kenapa tidak begitu erat juga.

Keluar dari cangkang memang perlu kekuatan yang besar untuk bisa beradaptasi. Saya mencoba melawan eksklusifitas, tapi ternyata seringkali saya pun tak kuat berada dalam keberagaman. Apalagi beragam berdasarkan gaya hidup yang beda jauh dengan kita.

Ada satu kejadian unik tentang hal itu. Di semester keenam, ada tugas kuliah hukum yang perlu kerja sama kelompok, PLKH. Nah, kebetulan sekali saat itu saat bergabung dengan teman-teman dari kelas Internasional. Yap, cuma dua anak dari reguler doank. Salah satunya saya. Lainnya anak IUP.

Apa yang terjadi?

Krik, krik. Saya lebih banyak diam dan melongo. Saya merasa culture shock.

Saat diskusi, saya seperti tidak punya ruang. Atau mungkin saya kurang memberanikan diri untuk bersuara. Tiap istirahat, mereka langsung pesan Gotri (which is ini makanan rada kurang ramah untuk kantong saya) dan beberapa makanan yg bahkan belum pernah saya icip.

Pertemanan dengan keberagaman, beda gaya hidup paling menantang

Kampus yang dianggap bonafit memiliki tantangan tersendiri. Mahasiswanya berasal dari bermacam daerah, suku, bangsa, bahasa, agama dan berbagai gaya hidup.

Di kampus saya mencoba untuk lebih meluaskan pertemanan. Berhubung ini adalah kampus umum, saya pun ada kesempatan untuk berteman dengan orang-orang lintas agama.

Pertemanan dengan seagama kadang terasa kikuk. Mungkin karena merasa sama-sama sudah benar, jadi malah kagok untuk membicarakan agama kami. Karena jelas berbeda, dan justru seringnya menganggap yang berbeda dalam agama yang sama itu dianggap kurang tepat. Tapi karena kami punya misi di lembaga yang sama, kami pun mencoba mempersepsikan sama terhadap suatu hal.

Sementara perbedaan yang berdasarkan pada relijiusitas, justru kami belajar untuk saling menghargai dan menghormati ibadah masing-masing. Sampai saat ini, kami masih punya satu grup yang membicarakan hal-hal umum yang lucu-lucu. Justru kami tidak pernah menyinggung tentang pekerjaan.

Untuk urusan bahasa pun tidak begitu masalah. Ujung-ujungnya kami akan mengobrol menggunakan bahasa Indonesia juga. Saya pun suka lebih fleksibel kalau ngobrol, jika bertemu dengan teman yang berbahasa sunda, saya ikut sunda, jawa saya ikut jawa, sampai lu-gue lu-gue ya saya pun ikutan. Meski wagu, tapi ya seru juga ternyata.

Berbeda pandangan juga sudah cukup biasa saya temukan. Meski kita biasa berdebat untuk suatu hal, kalau sudah malas untuk membicarakan suatu perspektif, kita akan kembali akrab membicarakan hal-hal ringan.

Nah, dari beragam tantangan keberagaman tersebut, justru menurut saya, saya kuliah waktu itu tantangan yang cukup susah adalah menghadapi keberagaman gaya hidup. Hah?

Ya, seperti cerita di atas. Beberapa teman yang sekomunitas pun entah kenapa jadi kurang begitu dekat karena gaya hidup kami yang berbeda. Saya jadi kagok ketika mereka membicarakan menu makanan yang saya nggak kenal. Tempat nongkrong yang saya nggak pernah mampir. Atau sesederhana ngobrolin minuman favorit atau restoran pun saya cukup sulit mencernanya.

Foto di atas itu adalah pertama kalinya saya ke McDonald. wkwk

Saya kira saya merasa cukup tertinggal. Bahkan ke tempat-tempat franchise pun saya baru kali itu. Eh ternyata pertemanan saya di tempat lain menemukan teman yang bahkan makan di warung makan super sambal yang masih ramah lingkungan pun, ada yang belum pernah.

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com

Hai, i am Ghina. i wrote my life experiences, parenting, and minimalist life in https://ghinarahmatika.com